Interview Beasiswa Direct PhD KFUPM
Setelah menjalani sebulan proses seleksi administrasi, alhamdulillah akhirnya kabar yang dinanti pun saya terima. Sebuah email yang menyatakan bahwa saya terpilih untuk melaksanakan interview bersama dengan beberapa kandidat lainnya.
After going through a month of administrative selection, alhamdulillah I finally received the news I had been waiting for. An email stating that I was selected to attend an interview along with several other candidates.
Saya harus segera menjawab email tersebut kurang dari 24 jam, isinya adalah pernyataan kesediaan dan ID Microsoft Teams sebagai aplikasi yang akan digunakan untuk melaksanakan interview.
I have to respond to that email within less than 24 hours, it contains a statement of willingness and a Microsoft Teams ID as the application that will be used to conduct the interview.
Setelahnya saya mencoba mempersiapkan sampai hari yang ditentukan tiba. Mengingat waktu ujian yang sangat singkat, saya berusaha memilih hal-hal penting yang akan disampaikan.
After that, I tried to prepare until the specified day arrived. Considering the very short exam time, I tried to choose the important things to be conveyed.
Hari interview pun tiba. Saya berusaha standby di waktu yang sudah ditentukan. Waktu pukul 10.00 Saudi sama dengan pukul 14.00 Indonesia. Bagi orang yang tidak familiar dengan Microsoft Teams seperti saya, hal ini menjadi penambah rasa khawatir. Saya yang sudah standby lebih dari 30 menit di depan layar laptop, bertanya-tanya "apakah yang saya lakukan sudah betul?" Tidak seperti lobby meeting pada aplikasi Zoom, saya hanya dihadapkan pada layar putih seperti ini. Menunggu meeting yang sudah terdelay dari waktu yang dijadwalkan.
The day of the interview arrived. I tried to be on standby at the scheduled time. 10:00 AM in Saudi is the same as 2:00 PM in Indonesia. For someone not familiar with Microsoft Teams like me, this added to my anxiety. I had been on standby for more than 30 minutes in front of my laptop screen, wondering, "Am I doing this right?" Unlike the meeting lobby in the Zoom app, I was only faced with a white screen like this, waiting for the meeting that had been delayed from the scheduled time.
Wajah empat orang interviewer pun muncul di layar saya. Saya sempat melakukan kesalahan karena mengklik tombol admit, memberikan izin kandidat lain untuk masuk. Ini karena saya tidak terbiasa dengan aplikasi Meets ini. Namun saya pun mengakui kesalahan dengan meminta maaf.
The faces of the four interviewers appeared on my screen. I made a mistake by clicking the admit button, allowing another candidate to enter. This happened because I was not used to the Meets application. However, I admitted my mistake by apologizing.
Saya berusaha menjawab setiap pertanyaan dengan tenang. Meskipun saya sempat dipotong untuk diingatkan, penjelasan saya terlalu panjang terkait hal yang dipertanyakan. Waktu 10 menit yang sangat ketat. Kemudian saya juga ditanya tentang mengapa mengambil departemen yang dituju, apa korelasinya dengan studi saya sebelumnya, apakah saya melamar beasiswa di tempat lain, dan terakhir adalah mempersilahkan saya untuk memberi satu pertanyaan.
I tried to answer each question calmly. Although I was occasionally interrupted to be reminded, my explanation was too long regarding the matter in question. The 10-minute time was very tight. Then I was also asked about why I chose the department I was aiming for, how it relates to my previous studies, whether I applied for scholarships elsewhere, and finally I was invited to ask one question.
Percakapan pun selesai. Saya tinggal menunggu hasil akhir proses seleksi ini. Semoga tulisan ini membantu siapapun yang sedang membutuhkannya. Jika prosesnya berlanjut, insya Allah akan saya bagi di blog ini.
The conversation is over. I just have to wait for the final results of this selection process. I hope this writing helps anyone who needs it. If the process continues, Insya Allah, I will share it on this blog.


Komentar
Posting Komentar