SEBUAH TEKA-TEKI GARIS TANGAN
Tidak semua dimensi ruang kehidupan ini dapat kita masuki. Kita mungkin bisa membayangkan pernah berada dalam suatu keadaan tetapi belum tentu benar-benar mengalaminya. Dan bisa jadi kita mengalami suatu keadaan tetapi tidak sesuai bayangannya.
Mencoba berbagai hal tidak lantas membuat kita dapat menemukan apa yang dicari. Tetapi terkadang yang tidak kita cari menyimpan sebuah jawaban. Setiap episode yang kita lewati bisa jadi adalah teka-teki, sebelum kita benar-benar menemukan.
Ya, usiaku saat ini sudah kepala tiga. Kesempatan yang pernah aku lewatkan tidak mudah lagi kembali kudapati. Pernah bekerja di tempat prestisius, lantas ditinggalkan. Aku tidak ingin hidupku saat ini berlarut-larut untuk menyesali. Biarlah sebentar aku menyendiri dan membuat sebuah refleksi.
“Ternyata biaya visa keluarga untuk kuliah di Saudi berat juga, tidak tertutupi stipend yang didapat. Padahal usiaku masih masuk persyaratan untuk kuliah di sana.”
Aku merasa kecewa, setelah sebelumnya dengan penuh semangat aku jelaskan kepada Abdullah. Benefit apa saja yang akan didapatkan jika aku lolos seleksi penerimaan beasiswa magister di Saudi, terutama terkait diperbolehkannya membawa keluarga.
“Aku tetap berat memberimu izin, apalagi minimal satu semester anak-anak kita hanya akan tinggal bersamaku.”
“Pasti berat. Tapi ini kan perjuangannya. Kita bisa umrah sekeluarga, bahkan haji tanpa antri berkat visa residen yang akan kita miliki.”
Wajah Abdullah hanya memberi simpul senyum yang sangat tipis, nyaris tidak terlihat seperti sebuah senyuman.
Sudahlah berhenti bermimpi! Aku memang sudah terlanjur memiliki anak empat dari pernikahanku dengan Abdullah sepuluh tahun lalu. Sekarang tidak ada pilihan lain selain menghabiskan waktu untuk membesarkan mereka. Biarlah mereka yang kelak akan meneruskan mimpi-mimpi itu.
Aku memang memutuskan untuk menikah, melepaskan kesempatan untuk mengejar beasiswa S2. Bukan tanpa alasan, ibuku sangat cemas dengan status anaknya yang belum berkeluarga di usia seperempat abad waktu itu.
Baiklah, sepertinya kesempatanku untuk studi dengan beasiswa sudah nyaris punah. Di Indonesia saja, batas usiaku sudah kadaluarsa. Sebulan lalu aku baru saja genap berusia 35 tahun. Artinya, batas usia untuk diterima sudah berakhir dimiliki.
Mengubur mimpi itu menyakitkan bagi seorang pemimpi sepertiku. Ya, imajinasiku memang sangat abstrak dan melintasi kemampuan. Tetapi itulah yang membuatku selama ini bisa merasakan banyak keajaiban yang tidak terduga.
Aku ingat sekali bagaimana rasanya dulu sebuah pengumuman di mading kampus terpampang.
“Lomba Menulis Essay?” Gumamku membaca dengan seksama. Seketika hormon dopamine menguasai otakku. Rasa semangat membuatku tidak sabar untuk mengikuti setiap petunjuk dan memenuhi semua persyaratannya.
Untuk pertama kalinya aku tahu rasa bahagia berjabat tangan dengan petinggi kampus. Sebuah jabatan tangan penghargaan karena tulisan terbaik yang diberikan. Tidak hanya sertifikat, aku pun mendapatkan selembar amplop. Isinya adalah nilai apresiasi yang sudah disiapkan panitia. Nilai yang tidak seberapa, tapi rasanya sangat berharga.
Dalam situasi lain, aku tidak benar-benar menyadari. Berbulan-bulan berkutat dengan skripsi menjadi hal yang menyenangkan bagiku. Membaca banyak referensi, mengolah data, menganalisis, dan menulisnya dalam sebuah karya membuat dopamineku tetap menyala.
“Apakah aku dilahirkan untuk menulis?” Sebuah pertanyaan pada diri sendiri yang belum disambut sepenuh kekuatan.
Pertanyaan ini pernah ditanyakan beberapa tahun lalu. Tetapi belum dijawab dengan mantap olehku yang masih mencari profesi lain untuk berperan.
Bukankah menulis itu profesi yang tidak mengenal usia dan gelar? Aku pun kembali teringat atas hikmah besar ketika aku mengalami keguguran. Pengalaman tersebut menjadi ide cerita sebuah momen kehilangan. Dengan mengalir aku bercerita kehamilan keempatku itu, mengungkapkan rasa hilang yang sebenarnya. Ternyata hal ini membuatku lolos kurasi dalam sebuah penerbitan buku antologi kehilangan. Sampai saat ini, bukunya pun masih beredar.
Untuk menggali data, seketika aku pun mengetik sebuah kata “royalti” di kotak pencarian beranda Gmail. Kemudian muncul beberapa riwayat surat elektronik dari tim penulis yang pernah bekerjasama sejak 10 tahun lalu. Ternyata aku masih menerima royalti dari buku yang pernah ditulis. Hanya saja nominalnya terlalu kecil, sehingga aku memilih untuk mendonasikannya. Aku tahu, menulis buku soal-soal persiapan masuk PTN (perguruan tinggi negeri) selalu berubah dari waktu ke waktu. Wajar saja jika bukuku sudah tidak beredar luas lagi. Tapi riwayat pesan elektronik ini membuatku merasa dihargai. Bahwa menulis adalah sebuah cara lain untuk menghadirkan kebermanfaatan.
Lalu apa yang membuat aku ragu? Mungkin karena sejak dulu menulis hanyalah pekerjaan paruh waktu. Tentu secara materi bukan hal utama yang bisa dituju. Selama ini aku harus mencari profesi lain agar nafas hidupku bisa tersambung dari waktu ke waktu.
Jika pengalaman sepuluh ribu jam terbang adalah waktu yang harus ditempuh seseorang untuk menjadi ekspert, lalu sudahkah aku mencurahkan banyak waktu untuk menjalani profesi yang satu ini?
Ah iya, aku belum pernah benar-benar mendisiplinkan waktu untuk itu. Hanya mendatanginya saat ingin, tanpa mengasahnya dengan sebuah ketekunan. Padahal beberapa kali aku mengenal tokoh penulis yang kesuksesannya bermula sejak ia memutuskan untuk produktif menulis. Hingga hadir untuknya titel sebagai penulis produktif. Seharusnya ini bisa menjadi referensi yang cukup kuat bagiku, yaitu menjadi seseorang yang produktif menulis.
Namun ternyata sebagian sisi raguku masih menggerutu, mungkin semua hanya kebetulan saja. Siapa saja bisa menjuarai ini dan memenangkan sayembara itu, bukan karena kemampuanku. Tetapi karena kesempatan kurang berpihak pada yang mampu.
Kalau diri sendiri saja meragukan kemampuanku, lau siapa yang akan menguatkannya? Bisa jadi tanganku digariskan untuk menyusun huruf demi huruf yang sebelumnya belum ada. Menebar manfaat kecil dari hal yang sebelumnya dianggap biasa. Bisa jadi sedikit ilmu yang kumiliki adalah cahaya terang bagi hati yang sedang terjebak dalam ruangan yang gelap.
Kini aku hanya sedang berharap dan berusaha mengikis keraguan. Tak mengapa kalau kita memang tak benderang seperti cahaya surya yang menyilaukan. Karena secercah cahaya lilin pun bisa sangat berarti di tengah kegelapan malam.
Pada awalnya, siapa pun tak ada yang tahu untuk apa ia diciptakan. Sampai akhirnya ada teka-teki yang dapat terbaca. Jika beberapa teka-teki tak mampu menjadi petunjuk. Bukan berarti kita tidak bisa memilih apa-apa.
Menjadi penulis yang bertebaran karyanya tentu tidak akan datang begitu saja. Refleksiku kali ini menghadirkan keyakinan bahwa usahaku untuk menjadi penulis hanya tentang kesadaran dan kemauan keras untuk berkarya. Mungkin hanya perlu lima ribu jam terbang lagi hingga aku merasakan bahwa menulis adalah kebiasaan yang mengalir dan membahagiakan.
Tulisan ini dibukukan dalam sebuah buku antologi Jejak Kita di Antara Kata, karena lolos kurasi penerbit Ellunar.


Komentar
Posting Komentar