Mengenal Pertanian Islami
Perjalanan Menuntut Ilmu
Sebelum membahas lebih lanjut terkait apa itu pertanian islami, saya ingin sedikit menceritakan perjalanan saya bagaimana rasa cinta dengan pertanian islami itu mulai bersemi di hati penulis yang fakir ini.
Tanggal 19 Agustus lalu adalah hari yang sangat saya nanti di bulan ini. Karena atas izin Allah saya diberi kesempatan untuk menjadi salah satu peserta pada workshop Basic Islamic Gardening yang diselenggarakan oleh AgriQuran.
AgriQuran adalah sebuah platform yang mengedukasi banyak orang terkait pentingnya pertanian bagi kehidupan. Secara khusus AgriQuran ini mengangkat pertanian dari Al-Quran dan mengaitkannya dengan masa keemasan islam yang tidak terlepas dari kejayaan di bidang pertanian.
Setelah sekian lama saya mengikuti berbagai media sosial AgriQuran, saya hampir selalu terpikir untuk mengikuti worksop terdekat yang akan diagendakannya ini.
Meskipun sempat berusaha berlapang dada karena melihat anggaran keuangan di bulan ini tidak mungkin cukup untuk mengikuti kegiatan bermanfaat yang satu ini. Investasi yang diperlukannya tidak sedikit, yaitu sekitar Rp590.000. Harga ini masih merupakan harga promo setelah harga coret Rp950.000. Nilai yang worthed bagi sebuah ilmu yang bermanfaat panjang kali luas hehehe.
Alhamdulillah bi idznillah, AgriQuran menawarkan kuota akses gratis bagi satu orang peserta yang ingin mengikuti acara ini. Syaratnya, hanya perlu membuat sebuah pernyataan yang mewakili alasan terkait seberapa besar keinginan kita untuk mengikuti acara tersebut.
Tidak berpikir panjang, saya utarakan satu paragraf yang saya tulis dengan sepenuh hati di kolom komentar postingan AgriQuran tersebut.
Beberapa hari kemudian notifikasi masuk ke direct message akun instagram saya. Sang admin mengirimkan sebuah pernyataan bahwa saya dipersilahkan untuk datang langsung di hari H, yang berarti bahwa saya mendapatkan kesempatan free access pada workshop Basic Islamic Gardening tersebut. Hadza min fadhli rabbi.
Hal ini adalah sebuah pembuktian bahwa ilmu adalah rezeki. Berapa banyak dari kita sering lupa bahwa ada sebuah kenikmatan yang sangat besar dan sering kita dapatkan, yaitu rezeki menuntut ilmu.
Karena ilmu itu adalah seumpama sinar matahari di tengah alam semesta yang tadinya gelap gulita. Ilmu juga sering diumpamakan seperti air hujan yang turun dari langit. Bukankah dengannya tanah yang kering menjadi hidup dan dapat menumbuhkan biji menjadi tumbuhan? Fatabarakallahu ahsanul khaliqin (Maha Suci Allah, Pencipta yang paling baik).
Berangkat sehari sebelum acara dari Jakarta ke Bandung dengan membawa tiga krucil tentu bukan hal ringan. Namun sejak langkah pertama terayun, saya niatkan untuk meraih ridha Allah dan mengejar keberkahan ilmu.
Perjuangan saya belum seberapa dibandingkan dengan ribuan kilo jarak yang ditempuh para ulama dahulu ketika memperoleh sebuah hadits saja.
Sebuah Sentilan
Kedatangan saya disambut baik oleh panitia, saya peserta pertama yang datang dengan seorang batita. Saya titip kedua kakaknya bersama saudara demi ingin all out menyediakan gelas kosong untuk diisi penuh dari teko ilmu hari ini.
Acara dimulai dengan perkenalan seluruh peserta satu per satu. Saya jadi tahu akan bersama siapa seharian itu. Diantaranya ada dari mahasiswa pertanian, perwakilan yayasan, komunitas, praktisi agrobisnis, hingga ibu rumah tangga yang semangat berkebun.
Setelah dibuka MC, acara dilanjutkan dengan materi pertama oleh Kang Faras, sang founder AgriQuran. Di awal pembahasan, beliau angkat beberapa dalil terkait keutamaan menuntut ilmu. Seisi ruangan semakin syahdu untuk menimba ilmu karenanya.
Keberadaan kita di majelis ilmu adalah sebuah perjalanan, yang dalam menempuhnya saja sudah mendapatkan jaminan dari Allah akan dimudahkan jalannya menuju surga. Belum lagi naungan malaikat yang menyertai selama bermajelis ilmu seperti ini.
Semakin terkoneksi sekali ketika beliau mengaitkan materi dengan ayat ke-30 surah Al-Baqarah, ayat yang pekan lalu baru saya ulang-ulang untuk disetorkan. Dan kali ini dikupas dengan tadabbur pendekatan pertanian.
"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, "Aku hendak menjadikan khalifah di bumi." Mereka berkata, "Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?" Dia berfirman, "Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
Pada ayat ini, Allah menyebut diri-Nya Rabbi yang memiliki keterkaitan dengan kata murabbi atau guru. Allah berdialog kepada malaikat, padahal kekuasaan ada di tangan-Nya. Tujuannya adalah untuk mendapatkan pelajaran.
Jika malaikat memiliki keshalihan, maka manusia memiliki ilmu yang dapat memuliakan kedudukannya. Itulah alasannya mengapa Allah memilih manusia untuk menjadi khalifah di muka bumi ini.
Kang Faras kemudian menyentil kami dengan sebuah ironisme saat ini. Dimana ternyata sebagai negara agraris, Indonesia menempati posisi ke-70 dari 117 negara dengan tingkat kelaparan yang tertinggi.
Kemudian data lain menyebutkan bahwa Indonesia memiliki 30 juta hektar lahan potensial yang menganggur, tidak dikelola. Ini kan menggambarkan sebuah angka kemubadziran yang sangat besar. Padahal perilaku mubadzir adalah hal yang dihindari dalam islam.
Bukankah ini menjadi tanda tanya besar, dimana peran kita sebagai manusia selama ini? Yang katanya diberi keunggulan akal dibandingkan seluruh makhluk lainnya.
Lebih khusus lagi, apa pertanggungjawaban kita kelak di hadapan Allah jika ditanya apa yang sudah kita lakukan dengan titipan sumber daya alam yang melimpah ini. Bukannya di negeri kita tongkat saja bisa menjadi tanaman?
Sedangkan golongan yang masuk neraka juga diantaranya adalah orang-orang yang tidak mengajak untuk memberi makan fakir miskin? Seharusnya kita bisa lebih banyak memberi dengan titipan alam seberlimpah ini? Astagfirullah al 'adzim, semoga Allah mengampuni kebodohan kita selama ini.
Ternyata Pertanian Se-KEREN Itu
Islam hadir bukan untuk menjajah, namun membebaskan dari penjajahan. Islam hadir untuk memberdayakan, bukan untuk mengeksploitasi.
Sharing saya baru di sesi pertama workshop nih teman-teman, sepertinya pembahasannya masih perlu dilanjutkan dalam postingan berikutnya. Insya Allah pelan-pelan saya tulis ditengah membersamai krucil yang semoga ada diantaranya menjadi penerus kejayaan islam di bidang pertanian. Saling mendoakan kebaikan ya, semoga doanya kembali kepada diri kita.


senang bangettt klo dapat ilmu seperti ini yaaaa
BalasHapussaya pun mupeng.
sama2 semangat menggali ilmu
Alhamdulillah dapat free acces mengikuti workshop AgriQuran yang keren sekeren Pertanian! Selamat Bun..
BalasHapusLangsung kepo saya pada konten-konten AgriQuran. ditunggu lanjutan ceritanya ya
MasyaAllah senang sekali bisa ikutan begini ya ngangsu ilmu akhirat banget ini, semoga di daerah ku juga ada acara begini. lagi pengen ikut kajian2 gitu biar bisa nambah ilmu
BalasHapusAlhamdulillah ya Mbak? Mendapat kesempatan menimba ilmu itu sesuatu banget. Semangat slalu.
BalasHapusSenangnya, Mbak, bisa mendapat kuota. Saya setuju ilmu adalah rezeki. Kita perlu upaya dan semangat untuk terus menimbanya. Siapa tahu bisa bermanfaat maksimal di masa depan.
BalasHapusSaya tungguin Teh tulisan selanjutnya tentang AgriQurannya saya kepo beneran. Keren banget Teh dapat free access itu rezeki banget untuk workshop sekeren ini
BalasHapusMashaAllaa~
BalasHapusProfesi apapun ketika mempelajarinya berdasarkan perintah Allah dari Al-Qur'an dan Hadits, hasilnya sungguh berbeda ya.. Anak sekarang diberi pondasi dan pemahaman yang baik sehingga menghargai setiap jerih payah profesi yang dijalani.
Kok pingin jadi petani islami ya.. banyak dari generasi kita yang nggak melek lagi dengan potensi besar negeri ini
BalasHapusAaah kerennya, masyaAllaah.. ikutan kepo juga soal AgriQuran dong teeh. pengen tahuuu karena baru denger banget istilah itu
BalasHapusMasyaa Allah. Konsep pertanian Islami memang sedang booming ya. Suamiku juga lagi giat bertani tapi lebih ke konsep organik. Negara sebenarnya butuh generasi muda yang mau bertani. Sayangnya anak muda yang mau bertani itu jarang.
BalasHapusternyata ada ya mba konsep pertanian islami. baru tahu saya. kudet hehe. nice info mba
BalasHapusMasyaAllah ternyata ada juga ya konsep pertanian Islami. Insyaallah bakal pasti halal ya hasil pertaniannya
BalasHapusMasyaallah sungguh Islam itu mencakup segala hal, termasuk pertanian. Barakallah, ya, Mbak, bisa mendapatkan ilmu yang tadinya berbayar bisa free access. Rezeki, ya, berkah seorang penulis. Satu paragraf bisa mengantarkan ke sebuah majelis ilmu.
BalasHapusDitunggu sharing ilmunya ya mbak, jujurly saya penasaran banget dengan AqriQuran ini, hal yang baru untuk saya
BalasHapusWah, kok menarik sekali ini
BalasHapusJujur saya baru dengar istilah pertanian islam ini mbak
Bikin penasaran
Wow menarik. Pertama saya salut ada irt sampai ke kota lain untuk menuntut ilmu. Ada suport sistemnya pula. Mknya saya percaya bahwa irt yg ga ngantor itu pada akhirnya butuh aktivitas agar bermanfaat untuk publik. Terutama bagi yang diridhoi suami dan pny suport sistem . Medua saya baru tahu ada yg namanya agriQuran,bertani dg membawa konsep islami
BalasHapusWah rezeki sekali mbak bisa ikutan acaranya. Apalagi ke Bandungnya juga penuh oerjuangan karena membawa batita. Terima kasih sharingnya, karena saya jadi tahu keberadaan AgriQuran ini..
BalasHapusMupeng mbak, mau join acaranya. Tapi jauh.. Lagi senang bertanam juga nih
BalasHapus